Feb 08

Christine Franciska

Kamis, 13 Desember 2012 | 21:01 WIB

SOLOK SELATAN--PT Supreme Energy Muara Laboh berencana membangun 4 sumur uji pada tahap eksplorasi dalam proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Muara Laboh di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat.

Pada Kamis (13/12), perseroan telah melakukan uji coba perdana pada sumur ML-A1 di Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Liki Pinangawan Muara Laboh di Nagari Alam Pauh Duo, Kabupaten Solok Selatan.

Executive Managing Officer Supreme Energy Triharyo Indrawan Soesilo mengatakan pembangunan sumur eksplorasi dimaksudkan untuk mengukur potensi tenaga panas bumi di wilayah tersebut yang nantinya diharapkan akan memiliki kapasitas sebesar 220MW.

"Rata-rata, satu sumur bisa menghasilkan 7MW sampai 8MW. Tapi pengukuran sumur ini hasilnya baru bisa diketahui beberapa hari ke depan," katanya.

Tahap eksploitasi, lanjut dia, menghabiskan dana investasi sebesar 40% dari total investasi Rp7 triliun. Perseroan setidaknya harus menyiapkan kas sebesar US$100 juta untuk mendanai proses eksploitasi tersebut.

"Pembangunan sumur memerlukan US$6 juta hingga US$8 juta. Untuk meminimalisir resiko dan lebih ekonomis, kita upayakan melakukan sedikit pengeboran," katanya.

Wakil Menteri ESDM, Rudi Rubiandini uji coba sumur panas bumi ini merupakan percobaan pertama setelah 20 tahun. "Hal ini menjadi tonggak baru pembangunan industri panas bumi ke depan," katanya, Kamis (13/12).

Rudi berharap industri panas bumi akan kembali hidup sehingga perlahan sumber energi yang sebelumnya diperoleh dari minyak bumi, batu bara, dan gas dapat digantikan dengan energi terbarukan dari air, angin, matahari, biofuel, dan panas bumi.

"Pembangunan PLTP di Solok Selatan tidak hanya penting bagi warga di sini tetapi juga untuk kejayaan energi dalam negeri di masa depan," sambungnya.

Pembangunan sumur uji coba yang lain akan berlangsung hingga Mei 2013, sementara proses eksplorasi diharapkan selesai pada Juni.

"Setelah uji dan cukup untuk 220MV, kita ajukan proposal ke pendana untuk melanjutkan ke tahap eksploitasi dengan membangun pembangkit pada 2014. Diharapkan PLTP ini dapat beroperasi pada 2016," kata Triharyo pada kesempatan yang sama.

Sebelumnya PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) telah menandatangani kontrak jual beli listrik selama 30 tahun dengan PT Supreme Energy Muara Laboh dengan skema Independent Power Producer (IPP). Ada pun harga listrik yang disepakati adalah US$9,4 sen per kWh.

Proyek PLTP Muara Laboh ini masuk dalam program 10.000 MW tahap kedua berdasarkan Peraturan Presiden No.4 Tahun 2010 dan Perpres No.48 Tahun 2011.

Direktur Utama PLN Nur Pamudji, beberapa waktu lalu mengungkapkan pembangkit itu akan memasok listrik kepada sistem interkoneksi Sumatra.

Kehadiran PLTP Muara Laboh dinilai dapat memenuhi tingginya pertumbuhan permintaan listrik di Sumatra, baik dari pelanggan industri mau pun rumah tangga. “Sumatra tumbuh pesat, pada 2016 beban puncak Sumatra mencapai 7.000 MW,” ujar Nur.(10/Bsi).