Jan 27

1

Jakarta, PT Supreme Energy Muara Laboh (PT SEML), selaku pemegang ijin Wilayah Kerja Panas Bumi Liki Pinangawan Muaralaboh (LPM),telah berhasil memperoleh sertifikasi besaran cadangan uap dari lembaga independen, yang ditunjuk dunia perbankan. Yaitu setelah PT SEML menyelesaikan program eksplorasinya akhir tahun 2013, melalui pelaksanaan pengeboran 6 (enam) sumur.

“Adapun nilai cadangan uap yang telah disertifikasi pada pertengahan 2014, nilainya cukup untuk membangun pembangkit listrik berkapasitas 70 MW, dimana seluruh pembangkitan listriknya akan menggunakan energi uap panas bumi (PLTP),” tutur Triharyo Indrawan Soesilo, President & CEO PT SEML.

Berdasarkan sertifikasi tersebut, Studi Kelayakan Proyek (Feasibility Study),dan rancangan awal PLTP, telah berhasil diselesaikan PT SEML akhir 2014. Rancangan awal ini kemudian dijadikan dokumen lelang untuk memilih kontraktor pembangun PLTP.

PT SEML saat ini sudah menyelesaikan kegiatan pra-kualifikasi lelang, untuk memilih kontraktor pelaksana pembangun PLTP. Tahap pra-kualifikasi ini diikuti oleh 21 (duapuluhsatu) peserta, dimana 8 (delapan) peserta memasukan dokumen pra-kualifikasi. Dari 8(delapan) peserta pra-kualifikasi, 3(tiga ) dinyatakan lulus. Minggu ini, ketiga peserta lelang tersebut, sedang melakukan tahap anwijsing untuk melakukan peninjauan kelapangan.

Bersamaan dengan proses lelang diatas, Menteri ESDM pada pertengahan tahun 2014, mengeluarkan Peraturan Menteri No. 17 Tahun 2014. Dimana pengembang energi panas bumi dimungkinkan untuk melakukan negosiasi kenaikan tariff jual listrik. PT SEML saat ini saat ini sedang dalam proses mengikuti Permen No:17 tahun 2014 tersebut untuk memperoleh kesepakatan harga jual tenaga listrik baru dengan PT. PLN (Persero).

“Bila proses lelang dan negosiasi dapat berjalan lancar, maka pembangunan PLTP diperkirakan dapat dimulai pada akhir tahun 2015 dan perkiraan produksi listrik pertengahan 2018. Proyek Panas Bumi Muara Laboh merupakan proyek nasional dan termasuk dalam Program Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik 10.000 MW Tahap II,” kata Triharyo. * (The Jakarta Times/ Sarwono).