Nov 12

url Kompas, 5 November 2014

Bank Pembangunan Asia (ADB) mendukung pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi di Indonesia lewat pemberian pinjaman dana 50 juta dollar AS (sekitar Rp. 600 miliar). Pinjaman diberikan kepada PT. Supreme Energy Rantau Dedap selaku pengembang pembangkit tenaga panas bumi di Muara Enim, Sumatera Selatan.

Kegiatan eksplorasi tenaga panas bumi di Rantau Dedap sedang berlangsung. Saat ini dilakukan pengeboran sumur eksplorasi ketiga dan ke empat. PT. Supreme Energy Rantau Dedap akan membangun pembangkit berkapasitas 240 Megawatt (MW) untuk menyediakan kebutuhan listrik bagi 490.000 rumah tangga di Sumatera Selatan

Menurut Direktur ABD Christopher Thieme, pemberian pinjaman perbankan untuk proyek panas bumi ini yang pertama kali di Indonesia. Pemberian pinjaman tersebut sebagai bagian dari proyek pendanaan teknologi ramah lingkungan dari ADB, yaitu proyek pengurangan efek rumah kaca secara global

“Ïndonesia punya potensi besar di sektor panas bumi. Apalagi, potensi itu belum terlalu banyak dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Selain itu, pemanfaatan panas bumi untuk listrik adalah sebuah penerapan teknologi ramah lingkungan yang sesuai dengan program kami,”kata Christopher

CEO PT Supreme Energy Rantau Dedap, Triharyo Indrawan Soesilo mengatakan, proyek pembangkit tenaga panas bumi ini diharapkan beroperasi pada 2019. Tahun depan akan dilakukan penelitian oleh pihak ketiga untuk menghitung ulang potensi sesungguhnya tenaga panas bumi di Rantau Dedap.

Kegiatan eksplorasi sejak 2012 lalu dan saat ini sedang dibuka jalan sepanjang 40 kilometer untuk kepentingan pengeboran sumur eksplorasi ketiga dan keempat”, ujar Triharyo.

Triharyo mengungkapkan, proyek tersebut sudah mendapat jaminan kelayakan usaha dari Kementrian Keuangan. Tenaga listrik yang dihasilkan pembangkit nanti juga siap dibeli PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN). Penandatanganan jual beli listrik dilakukan pada November 2012.

Potensi energi panas bumi di perkirakan mencapai 29,500 MW. Dari jumlah itu, baru 11,134 MW saja yang telah dimanfaatkan untuk sumber tenaga pembangkit listrik panas bumi.

Krisis semakin nyata

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said, seusai bertemu Wakil Presiden Jusuf Kalla, Selasa (4/11) petang, mengatakan kemampuan pemerintah memenuhi pertumbuhan sdaya klistrik per tahun hanya 2,000 MW. Padahal, daya yang dibutuhkan setiap tahunnya 7.000 MW.

Öleh karena itu, selain meningkatkan kemampuan PT. PLN dan melanjutkan proyek investasi modal sendiri (independent power plant), Kementrian ESDM juga menyiapkan opsi investasi asing membangun pembangkit listrik,” ujar Sudirman.

Dia menegaskan, tanpa ada langkah konkret pemerintah, krisis daya listrik nyata di depan mata. Sejauh ini pertumbuhan ekonomi 1 persen menambah 1,5 persen daya listrik. “Jika pertumbuhan ekonomi kita 6 persen, berarti pertumbuhan kebutuhan listrik 9 persen per tahun atau sekitar 7,000 MW. Namun, kemampuan kita hanya 2,000 MW.